Menjembatani Tradisi dan Industri: Siasat Hilirisasi Ekonomi Kreatif Jaranan di Banyuwangi
BANYUWANGI, 19 Juli 2026 — Kelompok Riset Tradisi Lisan dan Kearifan Lokal (KeRis TERKELOK) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UNEJ) kembali melaksanakan program pengabdian masyarakat di Banyuwangi. Melalui Program Dosen Mengabdi di Desa Asal (Prosendidesa) tahun kedua, tim riset berfokus mengatasi fenomena “kesenjangan komersialisasi” pada kesenian tradisional dengan mengembangkan paket wisata pertunjukan Jaranan. Kegiatan dipusatkan di Kantor Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi.
Kegiatan yang diketuai oleh Edy Hariyadi, S.S., M.Si., bersama anggota Dr. Heru S.P. Saputra, M.Hum., dan Dra. Titik Maslikatin, M.Hum., ini merupakan kelanjutan dari program tahun sebelumnya. Jika tahun pertama berfokus pada pemberdayaan Kelompok Seni Jaranan Sidodadi Baluk yang diketuai oleh Atmo, maka tahun kedua ini diarahkan pada hilirisasi ekonomi kreatif, standardisasi pertunjukan, manajemen bisnis, serta pembukaan akses pasar pariwisata.

Simulasi Lapangan dan Standardisasi Paket Wisata
Dalam pelaksanaan kegiatan di Kantor Kelurahan Kebalenan, Jaranan Campursari Sidodadi Baluk menggelar simulasi pementasan langsung dengan menampilkan empat tarian awal, yaitu Tari Sembur Beras Kuning, Tari Iring-Iring, Tari Sampak, dan Tari Sampak Pegon di bawah arahan koreografer Suharno. Pementasan simulasi yang awalnya berlangsung hampir empat jam tersebut dijadikan sebagai laboratorium lapangan oleh tim pengabdi untuk mengevaluasi efisiensi alur dan durasi pertunjukan.
Berdasarkan hasil evaluasi simulasi tersebut, KeRis TERKELOK bersama mitra berhasil merumuskan dan menstandardisasi satu Paket Wisata Pertunjukan Jaranan Sidodadi Baluk yang lebih ringkas dan realistis untuk industri pariwisata. Dari target awal proposal berdurasi 1 jam, disepakati penyesuaian durasi komparatif menjadi 1,5 jam yang mengemas karakteristik Jaranan secara utuh, mulai dari ritual pembuka (umbul donga), aksi lelucon (geculan), hingga pertarungan ikonik yang melibatkan tarian Jaranan, Kucingan, Barong Kepruk, dan Macanan (ndadi).
Penguatan Identitas melalui Produk Kreatif dan Digitalisasi
Selain standardisasi lini pertunjukan, tim mahasiswa FIB UNEJ juga melakukan proses hilirisasi produk fisik dengan merancang merchandise resmi kelompok. Melalui kajian identitas visual pada media sosial mitra, tim memproduksi kaos resmi, gantungan kunci akrilik, pin, dan stiker bertuliskan “Jaranan Sidodadi Baluk Banyuwangi” sebagai sumber pendapatan tambahan bagi kelompok seni.

Desain kaos Jaranan Sidodadi Baluk
Pada sektor digital, dilakukan optimalisasi kanal YouTube dan Facebook resmi kelompok untuk membuka peluang monetisasi dan mengalihkan perhatian penonton dari panggung fisik ke platform digital. Tim juga merampungkan produksi video promosi estetis berupa trailer paket wisata serta menyusun publikasi berita online guna memperluas eksposur pemasaran ke khalayak luas.

desain merchandise lainnya, ganci dan pin
“Melalui pengabdian ini, kami berharap pengembangan paket wisata jaranan bisa mempertemukan misi pelestarian tradisi dengan potensi industri wisata yang sedang moncer di Banyuwangi. Kesenian Jaranan bukan hanya kita pandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga merupakan produk kebudayaan dinamis yang mampu menghidupi para pelakunya,” ujar Edy Hariyadi.
Rekomendasi Kebijakan untuk Akses Pasar Pariwisata
Sebagai langkah strategis guna membangun integrasi jejaring pasar yang formal dan berkelanjutan, tim KeRis TERKELOK telah merumuskan dokumen rekomendasi kebijakan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Dokumen yang berjudul “Rekomendasi Pengembangan Paket Wisata Pertunjukan Berbasis Seni Budaya Using melalui Hilirisasi Ekonomi Kreatif Kelompok Seni Jaranan Sidodadi Baluk” ini mendorong pemerintah daerah agar bersedia mengintegrasikan paket pertunjukan ini ke dalam ekosistem pariwisata daerah, seperti jaringan perhotelan dan biro perjalanan.
Comments are Closed