Archives
now browsing by author
Menjembatani Tradisi dan Industri: Siasat Hilirisasi Ekonomi Kreatif Jaranan di Banyuwangi
BANYUWANGI, 19 Juli 2026 — Kelompok Riset Tradisi Lisan dan Kearifan Lokal (KeRis TERKELOK) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UNEJ) kembali melaksanakan program pengabdian masyarakat di Banyuwangi. Melalui Program Dosen Mengabdi di Desa Asal (Prosendidesa) tahun kedua, tim riset berfokus mengatasi fenomena “kesenjangan komersialisasi” pada kesenian tradisional dengan mengembangkan paket wisata pertunjukan Jaranan. Kegiatan dipusatkan di Kantor Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi.
Kegiatan yang diketuai oleh Edy Hariyadi, S.S., M.Si., bersama anggota Dr. Heru S.P. Saputra, M.Hum., dan Dra. Titik Maslikatin, M.Hum., ini merupakan kelanjutan dari program tahun sebelumnya. Jika tahun pertama berfokus pada pemberdayaan Kelompok Seni Jaranan Sidodadi Baluk yang diketuai oleh Atmo, maka tahun kedua ini diarahkan pada hilirisasi ekonomi kreatif, standardisasi pertunjukan, manajemen bisnis, serta pembukaan akses pasar pariwisata.

Simulasi Lapangan dan Standardisasi Paket Wisata
Dalam pelaksanaan kegiatan di Kantor Kelurahan Kebalenan, Jaranan Campursari Sidodadi Baluk menggelar simulasi pementasan langsung dengan menampilkan empat tarian awal, yaitu Tari Sembur Beras Kuning, Tari Iring-Iring, Tari Sampak, dan Tari Sampak Pegon di bawah arahan koreografer Suharno. Pementasan simulasi yang awalnya berlangsung hampir empat jam tersebut dijadikan sebagai laboratorium lapangan oleh tim pengabdi untuk mengevaluasi efisiensi alur dan durasi pertunjukan.
Berdasarkan hasil evaluasi simulasi tersebut, KeRis TERKELOK bersama mitra berhasil merumuskan dan menstandardisasi satu Paket Wisata Pertunjukan Jaranan Sidodadi Baluk yang lebih ringkas dan realistis untuk industri pariwisata. Dari target awal proposal berdurasi 1 jam, disepakati penyesuaian durasi komparatif menjadi 1,5 jam yang mengemas karakteristik Jaranan secara utuh, mulai dari ritual pembuka (umbul donga), aksi lelucon (geculan), hingga pertarungan ikonik yang melibatkan tarian Jaranan, Kucingan, Barong Kepruk, dan Macanan (ndadi).
Penguatan Identitas melalui Produk Kreatif dan Digitalisasi
Selain standardisasi lini pertunjukan, tim mahasiswa FIB UNEJ juga melakukan proses hilirisasi produk fisik dengan merancang merchandise resmi kelompok. Melalui kajian identitas visual pada media sosial mitra, tim memproduksi kaos resmi, gantungan kunci akrilik, pin, dan stiker bertuliskan “Jaranan Sidodadi Baluk Banyuwangi” sebagai sumber pendapatan tambahan bagi kelompok seni.

Desain kaos Jaranan Sidodadi Baluk
Pada sektor digital, dilakukan optimalisasi kanal YouTube dan Facebook resmi kelompok untuk membuka peluang monetisasi dan mengalihkan perhatian penonton dari panggung fisik ke platform digital. Tim juga merampungkan produksi video promosi estetis berupa trailer paket wisata serta menyusun publikasi berita online guna memperluas eksposur pemasaran ke khalayak luas.

desain merchandise lainnya, ganci dan pin
“Melalui pengabdian ini, kami berharap pengembangan paket wisata jaranan bisa mempertemukan misi pelestarian tradisi dengan potensi industri wisata yang sedang moncer di Banyuwangi. Kesenian Jaranan bukan hanya kita pandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga merupakan produk kebudayaan dinamis yang mampu menghidupi para pelakunya,” ujar Edy Hariyadi.
Rekomendasi Kebijakan untuk Akses Pasar Pariwisata
Sebagai langkah strategis guna membangun integrasi jejaring pasar yang formal dan berkelanjutan, tim KeRis TERKELOK telah merumuskan dokumen rekomendasi kebijakan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Dokumen yang berjudul “Rekomendasi Pengembangan Paket Wisata Pertunjukan Berbasis Seni Budaya Using melalui Hilirisasi Ekonomi Kreatif Kelompok Seni Jaranan Sidodadi Baluk” ini mendorong pemerintah daerah agar bersedia mengintegrasikan paket pertunjukan ini ke dalam ekosistem pariwisata daerah, seperti jaringan perhotelan dan biro perjalanan.
Mahasiswa Sastra Indonesia UNEJ Berpartisipasi dalam Kegiatan Pengabdian Keris Terkelok di Banyuwangi
Banyuwangi, 19 Juli 2026 — Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengabdian yang dilaksanakan oleh tim dosen di Banyuwangi. Mahasiswa tersebut adalah Ivan Abdillah Nur Hidayat dan Linda Iftinah Sari. Keduanya mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia angkatan 2023. Dalam kegiatan pengabdian pada Program Dosen Mengabdi di Desa Asal (Prosendi) tersebut, mahasiswa berperan aktif, mulai dari menyiapkan souvenir, mendokumentasikan kegiatan (foto dan video), hingga memfasilitasi tayangan langsung pentas Seni Jaranan yang menjadi objek pengabdian, Minggu (19/7).

Tim Pengabdian Keris Terkelok UNEJ berpose bersama Kelompok Seni Jaranan Sidodadi Baluk
Partisipasi aktif mahasiswa dirasakan sangat membantu bagi dosen yang sedang melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks ini, tim dosen yang tergabung dalam Kelompok Riset Tradisi Lisan dan Kearifan Lokal (KeRis TERKELOK) merasakan peran aktif mahasiswa mampu memperlancar dan melengkapi berbagai pernik kebutuhan di lapangan. Tim dosen yang melaksanakan pengabdian diketuai oleh Edy Hariyadi, S.S., M.Si., dengan anggota Dr. Heru S.P. Saputra, M.Hum. dan Dra. Titik Maslikatin, M.Hum.
Kegiatan inti pengabdian berupa rangkaian pertunjukan Seni Jaranan Campursari Sidodadi, yang dilaksanakan di Kantor Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi. Kelompok Seni Jaranan Campursari Sidodadi Baluk yang diketuai oleh Atmo menjadi mitra dalam kegiatan tersebut. Pertunjukan tersebut menjadi materi simulasi yang akan dikembangkan menjadi paket wisata industri kreatif, sehingga memiliki daya tarik lebih bagi wisatawan. Dalam pertunjukan siang itu, Seni Jaranan Campursari Sidodadi menampilkan empat tarian, yaitu Tari Sembur Beras Kuning, Tari Iring-Iring, Tari Sampak, dan Tari Sampak Pegon.

Kegiatan pengabdian oleh tim KeRis TERKELOK mendorong pengembangan kemasan paket wisata. Pertunjukan yang biasanya dilaksanakan seharian, diharapkan dapat dipadatkan dalam beberapa jam, dengan tetap menampilkan struktur pertunjukan Jaranan yang utuh. Ciri khas Jaranan berupa ritual pembuka (umbul donga), aksi lelucon (geculan), hingga pertarungan dengan barong yang menimbulkan peristiwa kesurupan (ndadi) tetap dapat ditampilkan. Meskipun demikian, rencana pengemasan paket wisata tidaklah sederhana, sehingga perlu dirancang secara matang atas dasar kreativitas.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan tersebut memerlukan peran aktif semua pihak yang berkolaborasi, yakni tim dosen, mahasiswa, pelaku seni Jaranan, dan masyarakat Banyuwangi, khususnya di Baluk atau Kebalenan. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata dari tim dosen kepada pelaku Jaranan sebagai bentuk apresiasi atas kolaborasi yang telah terjalin dalam mendukung pelestarian budaya lokal. Acara ditutup dengan foto bersama antara tim dosen, mahasiswa, pelaku seni, dan masyarakat.

(Kontributor: Ivan Abdillah Nur Hidayat & Linda Iftinah Sari)
Mahasiswa Sastra Indonesia FIB UNEJ Terjun Langsung dalam Prosendi Desa: Melestarikan Seni Jaranan Sidodadi Baluk Banyuwangi
Banyuwangi, 30 Mei 2025 — Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember, turut berpartisipasi dalam Program Dosen Mengabdi di Desa Asal (Prosendi Desa) yang berlangsung di Desa Baluk, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Kegiatan lapangan ini menjadi bagian dari upaya nyata dalam mendukung pelestarian seni tradisional Jaranan Campursari Sidodadi Baluk sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.
Dalam kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 30 Mei 2025 tersebut, Belgies Dewi Fortuna Anwar dan Kayla Bintang Nafizah mahasiswa angkatan 22, serta Nabila Siti Nurhamidah angkatan 23 bersama tim dosen mengamati pertunjukan Jaranan Campursari Sidodadi Baluk yang digelar dalam rangkaian acara mantenan di desa Banjarsari. Mahasiswa tak hanya menjadi penonton, tetapi juga aktif melakukan perekaman video sebagai bagian dari pembuatan profil digital kesenian Jaranan Sidodadi Baluk. Selain itu, tim juga melakukan pengambilan foto dari berbagai sudut untuk mendokumentasikan pertunjukan secara komprehensif.
“Selain pengambilan gambar dan video, kami berencana untuk melakukan penggalian informasi lebih dalam melalui wawancara dengan ketua dan pelaku kesenian Jaranan Sidodadi Baluk. Kami berharap dapat menemukan sisi unik dan keistimewaan seni ini yang bisa menjadi materi edukasi dan promosi,” ujar salah satu mahasiswa peserta program.
Kang Sis, mantan ketua Jaranan Sidodadi Baluk, dalam wawancara yang dilakukan sebelumnya, mengungkapkan sejarah panjang perjalanan kelompok ini yang telah berdiri sejak tahun 1972 dan terus bertahan hingga kini meski menghadapi berbagai tantangan, baik dalam regenerasi maupun persaingan dengan kelompok seni lainnya.
Program ini merupakan bagian dari hibah pengabdian Universitas Jember yang bertujuan untuk memberdayakan kelompok seni tradisional melalui pelatihan manajemen organisasi, strategi pemasaran digital, serta pendampingan dokumentasi pertunjukan. Dengan dukungan mahasiswa dan tim dosen, kelompok seni diharapkan mampu memperluas jangkauan audiensnya, terutama melalui media sosial dan platform digital yang semakin relevan di era sekarang.
Keikutsertaan mahasiswa dalam program ini di samaping memberikan pengalaman lapangan yang berharga, juga menjadi sarana pembelajaran langsung tentang pentingnya pelestarian budaya lokal dan kontribusi nyata ilmu budaya dalam penguatan identitas budaya daerah. Kegiatan pendokumentasian dan wawancara akan dilanjutkan dalam beberapa kesempatan berikutnya guna melengkapi profil kesenian serta mengembangkan media promosi digital yang dapat mendukung keberlanjutan kelompok seni Jaranan Sidodadi Baluk.



Akademisi FIB Unej Adakan Pelatihan Pembuatan Dongeng Fabel Hingga Launching Karya
Jember – Akademisi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember (Unej) lakukan pengabdian pada masyarakat gandeng Rumah Bermain dan Rumah Belajar Untukmu Si Kecil (RB-USK) Jember adakan pelatihan pembuatan dongeng fabel hingga lauching karya bertempat di Aula Yayasan Untukmu Si Kecil, Kecamatan Sumbersari, Jember. Minggu (01/10).
Pelatihan tersebut melibatkan salah satu dosen dari Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, yakni Zahratul Umniyyah, S.S., M.Hum., akrab dipanggil Niyya serta dua mahasiswa yakni Fatmawati dan Riski Rosalinda.
Pengabdian pada masyarakat melalui program hibah dosen pemula ini telah dilaksakan sejak 4 Juni 2023. Serangkaian program ini dimulai dengan pelatihan pembuatan dongeng berjenis fabel, proses kurasi, editing, proses penerbitan dan hingga proses launching karya.

Terdapat 7 cerita fabel yang terdapat dalam buku yang dibuat. Cerita fabel tersebut diciptakan oleh anak-anak Yayasan USK dan telah melewati masa kurasi.
Acara Lauching karya dimulai dengan pembukaan oleh MC, kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Niyya dan penyerahan secara simbolis kepada perwakilan RB-USK. Selanjutnya kumpulan fabel tersebut akan didistribusikan kepada anak-anak yang ada di RB-USK dan juga sebagai koleksi di perpustakaan tersebut.
Dalam sambutannya Niyya berharap kumpulan dongeng ini dapat bermanfaat dan dapat membuat anak-anak semangat dan terus berkarya. “Itulah hasil karya kalian. Selamat dan semoga kalian bisa terus berkarya ke depannya, dan pastinya jangan takut untuk berkarya.” tuturnya.
Selanjutnya, anak-anak yang menghadiri acara ditugaskan untuk menampilkan pembacaan dongeng. Dongeng yang dibaca pun bebas tidak hanya fabel. Namun, beberapa juga mengambil tema rumah. Seluruh peserta acara tersebut pun satu persatu membacakan dongeng yang telah dipilih secara bergantian ke depan.
Tidak hanya itu, ada peserta terbaik dalam pembacaan dongeng yang kemudian mendapat doorprize. Peserta tersebut sebanyak 5 orang dan telah membacakan dongengnya dengan baik.
Sementara itu, salah satu kontributor dalam kumpulan fabel tersebut sekaligus sebagai peserta pelatihan yang sejak awal mengikuti merasa sangat senang. Ia menjadi bangga karena telah menerbitkan karya yang dibukukan. “Seru, terus saya senang sekali karena bisa menghasilkan karya.” Ucapnya saat itu.

Launching karya tersebut kemudian diakhiri dengan foto bersama dengan peserta. Mereka pun dengan senyum ceria menunjukkan buku kumpulan fabel di tangannya.
repost dari: https://titian.id/akademisi-fib-unej-adakan-pelatihan-pembuatan-dongeng-fabel-hingga-launching-karya/
Resensi buku Bahasa Madura karya Prof. Dr. Akhmad Sofyan, M.Hum.
Judul: Bahasa Madura
Penulis: Akhmad Sofyan
Penerbit: Jogja Bangkit Publisher
Tahun Terbit: 2016
Jumlah Halaman: 272
ISBN: 978-602-0818-36-8
Buku ini disusun sebagai upaya penulis untuk menghadirkan bahan bacaan yang lebih relevan tentang Bahasa Madura. Dalam buku ini, Akhmad Sofyan memberikan uraian mendalam tentang berbagai aspek kebahasaan Madura, termasuk morfologi, sintaksis, fonologi, serta aspek sosial budaya yang terkait dengan penggunaannya. Buku ini berfokus tidak hanya pada deskripsi linguistik, tetapi juga mencakup elemen sosial yang menjelaskan bagaimana Bahasa Madura dipertahankan dan berkembang di tengah arus modernisasi dan interaksi multikultural.
Isi Buku
1. Bab 1 – Sosial Budaya dan Bahasa: Mengulas latar belakang budaya dan sosial yang memengaruhi Bahasa Madura, termasuk stratifikasi sosial, agama, dan wilayah penutur.
2. Bab 2 – Sistem Bunyi Bahasa: Menjelaskan fonologi Bahasa Madura, mencakup vokal, konsonan, dan aturan-aturan fonotaktik dalam bahasa ini.
3. Bab 3 – Morfem dan Kata: Membahas berbagai jenis morfem dan kategori kata dalam Bahasa Madura, seperti verba, ajektiva, adverbia, dan numeralia.
4. Bab 4 – Morfofonemis: Menguraikan perubahan bentuk fonem yang terjadi ketika morfem bergabung, seperti infleksi dan derivasi.
5. Bab 5 – Afiksasi: Menguraikan sistem prefiks, sufiks, dan konfiks dalam Bahasa Madura, yang membentuk kata-kata baru.
6. Bab 6 – Reduplikasi dan Komposisi: Menjelaskan pembentukan kata melalui pengulangan (reduplikasi) dan penggabungan morfem (komposisi).
7. Bab 7 – Frase dan Kalimat: Mengupas struktur frase dan kalimat dalam Bahasa Madura, baik dari sisi sintaksis maupun semantis.
8. Bab 8 – Ejaan Bahasa Madura: Mengajukan aturan ejaan yang diperuntukkan bagi Bahasa Madura yang lebih mudah dipahami dan diterima.
Buku ini sangat kaya akan informasi tentang Bahasa Madura dari segi linguistik dan sosial budaya. Penulis tidak hanya menyajikan teori, tetapi juga menyediakan latihan-latihan pada setiap akhir bab, yang sangat bermanfaat bagi pembaca yang ingin menguasai Bahasa Madura secara praktis. Buku ini juga memperhatikan aspek sosial budaya yang berpengaruh terhadap penggunaan Bahasa Madura, sehingga relevan untuk para pembelajar, akademisi, dan peneliti bahasa.
Beberapa pembaca mungkin merasa bahwa pembahasan bahasa yang sangat mendetail dan teknis bisa menjadi tantangan jika tidak memiliki latar belakang linguistik. Buku ini juga bisa lebih menarik jika diberikan studi kasus atau contoh-contoh nyata dari penutur asli Bahasa Madura dalam konteks sehari-hari.
Buku ini merupakan sumber referensi yang komprehensif tentang bahasa dan budaya Madura. Buku ini penting bagi siapa saja yang tertarik mendalami bahasa daerah di Indonesia dan sangat direkomendasikan bagi peneliti, mahasiswa, atau praktisi yang ingin memahami bahasa Madura secara mendalam.
Resensi buku Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Using karya Dr. Agus Sariono, M. Hum.
• Judul: Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Using
• Penulis: Dr. Agus Sariono, M. Hum.
• Penerbit: Grandia
• Jenis Buku: Kajian Linguistik
Sinopsis
Buku ini membahas tentang fenomena pemilihan bahasa dalam komunitas masyarakat Using di Banyuwangi, Jawa Timur. Masyarakat Using dikenal sebagai kelompok etnis dengan kekhasan linguistik dan budaya yang unik. Buku ini mendalami bagaimana masyarakat Using memilih bahasa dalam interaksi sosial mereka, termasuk penggunaan bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan variasi lokal. Dr. Agus Sariono menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan bahasa dalam situasi-situasi tertentu, seperti faktor etnis, partisipan, dan konteks sosial, yang menjadi penentu dalam praktik alih kode dan campur kode.
Isi Buku
1. Pendahuluan: Bab ini menguraikan latar belakang, kerangka teori, serta pendekatan etnografi komunikasi yang digunakan dalam penelitian pemilihan bahasa di masyarakat Using.
2. Situasi Kebahasaan di Banyuwangi: Membahas kondisi linguistik di Kabupaten Banyuwangi dan peran bahasa dalam kehidupan sosial masyarakat Using. Bab ini memberikan gambaran tentang penggunaan bahasa Jawa, dialek lokal, dan bahasa Indonesia.
3. Kode dan Pemilihan Kode dalam Masyarakat Using Singotrunan: Bab ini mengupas penggunaan bahasa Jawa dengan berbagai tingkatan, seperti ngoko dan krama, serta pilihan bahasa lainnya dalam interaksi masyarakat Using. Aspek-aspek yang dibahas termasuk morfologi, sintaksis, dan leksikon yang khas dalam pemilihan kode.
4. Alih Kode dalam Masyarakat Using Singotrunan: Fokus pada fenomena alih kode, yaitu peralihan penggunaan bahasa dalam satu percakapan atau antar situasi. Bab ini menjelaskan alasan-alasan di balik alih kode, seperti konteks keluarga, pendidikan, dan interaksi sosial, yang memperlihatkan kompleksitas pemilihan bahasa di komunitas Using.
5. Kesimpulan dan Implikasi Sosial Budaya: Bab ini menyimpulkan hasil penelitian dan menunjukkan bagaimana pemilihan bahasa tidak hanya mencerminkan preferensi linguistik, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya dan alat untuk memperkuat solidaritas etnis di kalangan masyarakat Using.
Kelebihan
Buku ini menawarkan wawasan yang sangat mendalam tentang dinamika kebahasaan dalam komunitas yang unik di Indonesia. Pendekatan etnografis yang diterapkan memberikan pemahaman kontekstual mengenai penggunaan bahasa dalam masyarakat Using. Analisis terhadap alih kode dan pemilihan kode di lingkungan sosial dan budaya masyarakat Using merupakan kontribusi yang berharga bagi studi linguistik dan sosiolinguistik di Indonesia.
Kekurangan
Bahasa yang digunakan dalam buku ini cenderung akademis dan teknis, yang mungkin kurang mudah dipahami oleh pembaca awam atau yang tidak memiliki latar belakang linguistik. Selain itu, contoh-contoh praktis dalam percakapan sehari-hari dapat ditambahkan untuk mempermudah pembaca memahami aplikasi teori yang disampaikan.
Kesimpulan
“Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat Using” karya Dr. Agus Sariono, M. Hum. adalah buku yang penting bagi para peneliti, mahasiswa, dan akademisi yang tertarik pada sosiolinguistik, khususnya tentang dinamika pemilihan bahasa di masyarakat Using. Buku ini memberikan gambaran komprehensif tentang cara masyarakat Using mempertahankan identitas etnis mereka melalui pemilihan bahasa dalam berbagai konteks sosial.
Resensi buku Pengantar Dialektologi: Panduan Penelitian dengan Metode Dialektometri karya Dr. Agus Sariono, M.Hum.
• Judul: Pengantar Dialektologi: Panduan Penelitian dengan Metode Dialektometri
• Penulis: Dr. Agus Sariono, M.Hum.
• Penerbit: CAPS
• ISBN: 978-602-9324-64-8
• Tebal: 127 halaman
Sinopsis
Buku ini memberikan panduan lengkap mengenai dialektologi, ilmu yang mempelajari variasi bahasa dalam masyarakat. Dr. Agus Sariono mengupas keanekaragaman bahasa di Indonesia dengan menyajikan penelitian mengenai dialek-dialek dari berbagai bahasa daerah seperti Minangkabau, Jawa, Sunda, Melayu, Bali, dan lainnya. Buku ini ditujukan bagi pembaca yang tertarik untuk melakukan penelitian dialektologi dan disusun dalam tujuh bab yang membahas konsep dasar, metode penelitian, dan aspek pembeda dialek.
Isi Buku
1. Dialektologi: Bab ini menjelaskan konsep dasar tentang dialek dan tujuan kajian dialektologi.
2. Metode Penentuan Dialek: Penulis memaparkan berbagai metode untuk menentukan perbedaan dialek, seperti leksikostatistik dan dialektometri.
3. Aspek Pembeda Dialek: Bab ini mengulas aspek-aspek yang membedakan dialek, mulai dari fonologi hingga leksikon.
4. Pengumpulan Data: Penjelasan tentang cara mengumpulkan data untuk penelitian dialektologi.
5. Analisis Data: Dialektometri: Pembahasan tentang teknik analisis data menggunakan dialektometri, yang menjadi metode utama dalam buku ini.
6. Pemetaan Dialek: Penulis menjelaskan cara melakukan pemetaan dialek sebagai bagian dari analisis data.
7. Pembahasan Dialektometri: Bab ini berisi studi kasus dan penerapan dialektometri secara lebih lanjut.
Kelebihan Buku
• Menyajikan metode penelitian yang jelas: Buku ini memberikan panduan terstruktur untuk peneliti pemula yang ingin memahami cara kerja dialektologi.
• Fokus pada metode dialektometri: Metode ini sangat penting dalam penelitian dialek di Indonesia, dan buku ini menguraikannya secara mendetail.
• Penjelasan praktis: Pembaca dapat mengikuti langkah-langkah penelitian dari awal hingga akhir, termasuk pengumpulan dan analisis data.
Kekurangan Buku
• Bahasa yang cenderung akademis: Bagi pembaca awam, beberapa istilah teknis mungkin sulit dipahami tanpa latar belakang linguistik.
• Terbatas pada metode dialektometri: Meskipun buku ini memberikan wawasan mendalam tentang dialektometri, pendekatan lainnya dalam dialektologi mungkin memerlukan referensi tambahan.
Kesimpulan
Buku ini sangat bermanfaat bagi akademisi, mahasiswa, dan peneliti yang tertarik pada kajian variasi bahasa di Indonesia. Dr. Agus Sariono berhasil menyusun panduan dialektologi dengan fokus pada metode dialektometri, yang tidak hanya memperkaya pemahaman tentang keragaman dialek di Indonesia tetapi juga membantu peneliti dalam melakukan studi lapangan.
Resensi buku Pengantar Etnografi Komunikasi Menyingkap Makna di Balik Perilaku Komunikatif Manusia karya Drs. Kusnadi, M.A.
• Judul: Pengantar Etnografi Komunikasi: Menyingkap Makna Dibalik Perilaku Komunikatif Manusia
• Penulis: Drs. Kusnadi, M.A.
• Penerbit: LaksBang Pressindo
• Tahun Terbit: Tidak disebutkan
• Jumlah Halaman: 375
• ISBN: 978-602-52053-1-1
Sinopsis
Buku ini memberikan panduan dasar dalam memahami dan mengaplikasikan etnografi komunikasi, yaitu pendekatan untuk mengkaji makna di balik perilaku komunikasi dalam suatu komunitas tertentu. Etnografi komunikasi melibatkan penelitian langsung dan interaksi sosial untuk mengungkap nilai, norma, dan aturan yang mengatur komunikasi antaranggota masyarakat. Drs. Kusnadi, M.A., sebagai seorang akademisi dengan latar belakang antropologi budaya, menguraikan proses pendekatan etnografis, mulai dari observasi, konstruksi makna, hingga analisis interaksi sosial dalam budaya tertentu.
Isi Buku
1. Bab I – Pendahuluan: Membahas latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan metode penelitian dalam etnografi komunikasi, memberikan pemahaman dasar tentang pentingnya penelitian ini.
2. Bab II – Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori: Mengulas literatur terkait pemilihan bahasa dan penerapan metode etnografi komunikasi, serta memberikan kerangka teoretis yang mendasari penelitian.
3. Bab V – Alih Kode dalam Masyarakat Using: Menganalisis fenomena alih kode (switching code) dalam konteks masyarakat Using, mengungkap faktor-faktor yang memengaruhi perubahan bahasa dalam percakapan.
4. Bab VI – Campur Kode dalam Masyarakat Using Singotrunan: Memperdalam pembahasan tentang campur kode (code-mixing) dalam masyarakat Using, khususnya di daerah Singotrunan, dengan fokus pada bentuk, fungsi, dan implikasi sosial dari campur kode ini.
5. Bab VII – Simpulan dan Saran: Menyajikan kesimpulan dari hasil penelitian dan memberikan saran untuk penelitian lebih lanjut dalam bidang etnografi komunikasi.
Kelebihan
Buku ini sangat informatif dan memberikan wawasan yang mendalam tentang etnografi komunikasi, khususnya dalam konteks masyarakat Indonesia. Penulis menggunakan pendekatan yang sistematis dan rinci, yang memudahkan pembaca untuk memahami konsep-konsep dasar dalam etnografi komunikasi. Buku ini juga memperkenalkan metode analisis etnografis yang bisa diterapkan pada studi komunikasi lintas budaya, membuatnya relevan bagi peneliti dan mahasiswa di bidang antropologi, sosiologi, dan komunikasi.
Kekurangan
Buku ini menggunakan bahasa yang cukup akademis dan formal, yang mungkin menjadi tantangan bagi pembaca umum atau pemula di bidang etnografi komunikasi. Selain itu, beberapa bagian terasa cukup padat dengan teori dan kurang didukung oleh contoh-contoh praktis yang aplikatif.
Kesimpulan
“Pengantar Etnografi Komunikasi” karya Drs. Kusnadi, M.A., adalah panduan komprehensif bagi siapa saja yang ingin mempelajari pendekatan etnografi dalam komunikasi. Buku ini sangat berguna bagi mahasiswa, akademisi, dan peneliti yang tertarik pada studi komunikasi lintas budaya dan interaksi sosial dalam masyarakat.
Resensi Buku Variasi Bahasa Jawa di Diponggo karya Dr. Agus Sariono, M.Hum.
Buku ini terdiri dari beberapa bab utama, yang dimulai dengan pengantar tentang variasi bahasa dalam perspektif perubahan bahasa. Bagian awal ini membahas konsep dasar variasi bahasa, yang disusul dengan deskripsi geografis dan sosial dari daerah Diponggo sebagai latar kontekstual penelitian. Dengan memahami latar belakang sosial dan geografis, pembaca diharapkan memperoleh gambaran menyeluruh tentang faktor-faktor yang mempengaruhi variasi bahasa di wilayah ini.
Selanjutnya, buku ini menyajikan analisis variasi bahasa dengan pendekatan dialektal. Penulis mengidentifikasi variasi fonologi, morfologi, dan leksikal yang khas dalam bahasa Jawa yang digunakan di Diponggo. Dalam analisis ini, Dr. Agus Sariono menyoroti bagaimana variasi bahasa di Diponggo mencerminkan identitas komunitas penuturnya serta memperkaya ragam bahasa Jawa secara keseluruhan.
Buku ini juga dilengkapi dengan metode kuantifikasi dan interpretasi data yang memungkinkan pembaca memahami persebaran variasi bahasa di tingkat tutur. Penelitian ini menyajikan data yang mendalam tentang bahasa di tingkat lokal, memberikan kontribusi penting dalam studi dialektologi di Indonesia.
Buku Variasi Bahasa Jawa di Diponggo merupakan sumber rujukan yang bermanfaat bagi peneliti bahasa, khususnya yang tertarik pada dialektologi dan variasi bahasa lokal di Indonesia. Buku ini juga relevan bagi para mahasiswa, dosen, dan peneliti yang ingin mendalami metode penelitian dialektologi dan variasi bahasa dalam konteks sosiolinguistik.
Resensi untuk buku Menjadi Sang Hibrid: Budaya Tengger dan Osing dalam Geliat Modernitas karya Drs. Andang Subaharianto, M.Hum. dan Dr. Ikhwan Setiawan, S.S., M.A
• Judul: Menjadi Sang Hibrid: Budaya Tengger dan Osing dalam Geliat Modernitas
• Penulis: Andang Subaharianto dan Ikhwan Setiawan
• Editor: Kusnadi
• Penerbit: Tidak disebutkan
• Jumlah Halaman: Tidak disebutkan
• Jenis Buku: Buku Ajar
Sinopsis
Buku ini mengkaji konsep hibriditas dalam konteks budaya masyarakat Tengger dan Osing yang berada di wilayah Jawa Timur, Indonesia. Dengan pendekatan budaya dan teori hibriditas, penulis membahas bagaimana budaya lokal beradaptasi, bertahan, dan mengalami transformasi di tengah gempuran modernitas dan pengaruh ekonomi-politik. Masyarakat Tengger dan Osing dihadapkan pada perubahan yang tidak hanya mengubah pola konsumsi dan pendidikan, tetapi juga menciptakan identitas budaya yang hibrid, yakni perpaduan antara nilai-nilai tradisional dan modern.
Isi Buku
1. Geliat di Tengah Kabut: Bab ini menyoroti masyarakat Tengger dan bagaimana mereka menghadapi keberantaraan budaya antara tradisi leluhur dan modernitas. Tema yang dibahas meliputi perubahan pada praktik pertanian, pola konsumsi, pendidikan, dan peneguhan identitas hibrid.
2. Gerak Dinamis dari Ujung Timur Jawa: Menggambarkan dinamika masyarakat Using, yang menunjukkan keterbukaan mereka terhadap budaya luar dan adopsi nilai-nilai baru tanpa kehilangan identitas. Bab ini menampilkan bagaimana identitas Using terbentuk melalui musik pop-etnik dan aktivitas budaya lainnya.
3. Ketika Sang Lokal Mulai Gelisah: Bab ini mendalami pergolakan masyarakat lokal dalam mempertahankan otoritas budaya tradisional di tengah pengaruh modernitas. Ada fenomena resistensi dari generasi muda yang mulai melanggar norma atau tabu, sebagai bentuk adaptasi mereka terhadap perubahan zaman.
4. Hibriditas Kultural dan Proyek Pelestarian Tradisi: Bab ini menjelaskan bagaimana tradisi dan ritual budaya Tengger dan Using direkonstruksi dalam pandangan ekonomi-politik negara dan pengaruh modal. Ritual tradisional yang dulu dianggap sakral kini mulai terintegrasi dengan komersialisasi dan event-event publik yang terikat dengan agenda ekonomi.
5. Konsepsi Teoretis dan Simpulan: Bab terakhir ini menyajikan refleksi teoritis mengenai hibriditas budaya, khususnya dalam konteks cultural studies dan postcolonial studies. Penulis menegaskan bahwa masyarakat lokal bukanlah entitas yang ‘beku’ tetapi entitas dinamis yang terus beradaptasi terhadap pengaruh eksternal tanpa kehilangan esensi identitasnya.
Kelebihan
Buku ini berhasil menghadirkan analisis mendalam tentang hibriditas budaya dengan fokus pada masyarakat Tengger dan Using. Penulis menggunakan pendekatan teori hibriditas dengan sangat terperinci, menjelaskan konsep-konsep yang mungkin jarang diangkat dalam kajian budaya lokal di Indonesia. Analisis mengenai komersialisasi budaya dan pengaruh modernitas dalam membentuk identitas hibrid memberikan perspektif baru bagi pembaca untuk memahami dinamika antara tradisi dan perubahan sosial.
Kekurangan
Meskipun buku ini menyajikan kajian budaya yang sangat berharga, beberapa bagian mungkin sulit dipahami bagi pembaca umum karena penggunaan istilah teoritis yang kompleks tanpa banyak contoh praktis atau ilustrasi kasus nyata. Selain itu, pembahasan tentang peran generasi muda dalam proses hibriditas bisa diperluas untuk memperlihatkan bagaimana mereka menjadi agen perubahan dalam konteks budaya lokal yang bertransformasi.
Kesimpulan
“Menjadi Sang Hibrid: Budaya Tengger dan Osing dalam Geliat Modernitas” adalah kontribusi penting dalam studi budaya dan antropologi di Indonesia. Buku ini memberikan pandangan yang komprehensif mengenai adaptasi budaya lokal dalam menghadapi modernitas, terutama dalam konteks masyarakat Tengger dan Using. Buku ini sangat direkomendasikan bagi akademisi, peneliti, dan mahasiswa yang tertarik pada studi budaya lokal, teori hibriditas, dan transformasi sosial.