Agustus, 2026

now browsing by month

 

Menjembatani Tradisi dan Industri: Siasat Hilirisasi Ekonomi Kreatif Jaranan di Banyuwangi

BANYUWANGI, 19 Juli 2026 — Kelompok Riset Tradisi Lisan dan Kearifan Lokal (KeRis TERKELOK) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UNEJ) kembali melaksanakan program pengabdian masyarakat di Banyuwangi. Melalui Program Dosen Mengabdi di Desa Asal (Prosendidesa) tahun kedua, tim riset berfokus mengatasi fenomena “kesenjangan komersialisasi” pada kesenian tradisional dengan mengembangkan paket wisata pertunjukan Jaranan. Kegiatan dipusatkan di Kantor Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi.

Kegiatan yang diketuai oleh Edy Hariyadi, S.S., M.Si., bersama anggota Dr. Heru S.P. Saputra, M.Hum., dan Dra. Titik Maslikatin, M.Hum., ini merupakan kelanjutan dari program tahun sebelumnya. Jika tahun pertama berfokus pada pemberdayaan Kelompok Seni Jaranan Sidodadi Baluk yang diketuai oleh Atmo, maka tahun kedua ini diarahkan pada hilirisasi ekonomi kreatif, standardisasi pertunjukan, manajemen bisnis, serta pembukaan akses pasar pariwisata.

Simulasi Lapangan dan Standardisasi Paket Wisata
Dalam pelaksanaan kegiatan di Kantor Kelurahan Kebalenan, Jaranan Campursari Sidodadi Baluk menggelar simulasi pementasan langsung dengan menampilkan empat tarian awal, yaitu Tari Sembur Beras Kuning, Tari Iring-Iring, Tari Sampak, dan Tari Sampak Pegon di bawah arahan koreografer Suharno. Pementasan simulasi yang awalnya berlangsung hampir empat jam tersebut dijadikan sebagai laboratorium lapangan oleh tim pengabdi untuk mengevaluasi efisiensi alur dan durasi pertunjukan.

Berdasarkan hasil evaluasi simulasi tersebut, KeRis TERKELOK bersama mitra berhasil merumuskan dan menstandardisasi satu Paket Wisata Pertunjukan Jaranan Sidodadi Baluk yang lebih ringkas dan realistis untuk industri pariwisata. Dari target awal proposal berdurasi 1 jam, disepakati penyesuaian durasi komparatif menjadi 1,5 jam yang mengemas karakteristik Jaranan secara utuh, mulai dari ritual pembuka (umbul donga), aksi lelucon (geculan), hingga pertarungan ikonik yang melibatkan tarian Jaranan, Kucingan, Barong Kepruk, dan Macanan (ndadi).

Penguatan Identitas melalui Produk Kreatif dan Digitalisasi
Selain standardisasi lini pertunjukan, tim mahasiswa FIB UNEJ juga melakukan proses hilirisasi produk fisik dengan merancang merchandise resmi kelompok. Melalui kajian identitas visual pada media sosial mitra, tim memproduksi kaos resmi, gantungan kunci akrilik, pin, dan stiker bertuliskan “Jaranan Sidodadi Baluk Banyuwangi” sebagai sumber pendapatan tambahan bagi kelompok seni.

Desain kaos Jaranan Sidodadi Baluk

Pada sektor digital, dilakukan optimalisasi kanal YouTube dan Facebook resmi kelompok untuk membuka peluang monetisasi dan mengalihkan perhatian penonton dari panggung fisik ke platform digital. Tim juga merampungkan produksi video promosi estetis berupa trailer paket wisata serta menyusun publikasi berita online guna memperluas eksposur pemasaran ke khalayak luas.

desain merchandise lainnya, ganci dan pin

“Melalui pengabdian ini, kami berharap pengembangan paket wisata jaranan bisa mempertemukan misi pelestarian tradisi dengan potensi industri wisata yang sedang moncer di Banyuwangi. Kesenian Jaranan bukan hanya kita pandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga merupakan produk kebudayaan dinamis yang mampu menghidupi para pelakunya,” ujar Edy Hariyadi.

Rekomendasi Kebijakan untuk Akses Pasar Pariwisata
Sebagai langkah strategis guna membangun integrasi jejaring pasar yang formal dan berkelanjutan, tim KeRis TERKELOK telah merumuskan dokumen rekomendasi kebijakan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Dokumen yang berjudul “Rekomendasi Pengembangan Paket Wisata Pertunjukan Berbasis Seni Budaya Using melalui Hilirisasi Ekonomi Kreatif Kelompok Seni Jaranan Sidodadi Baluk” ini mendorong pemerintah daerah agar bersedia mengintegrasikan paket pertunjukan ini ke dalam ekosistem pariwisata daerah, seperti jaringan perhotelan dan biro perjalanan.



Mahasiswa Sastra Indonesia UNEJ Berpartisipasi dalam Kegiatan Pengabdian Keris Terkelok di Banyuwangi

Banyuwangi, 19 Juli 2026 — Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengabdian yang dilaksanakan oleh tim dosen di Banyuwangi. Mahasiswa tersebut adalah Ivan Abdillah Nur Hidayat dan Linda Iftinah Sari. Keduanya mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia angkatan 2023. Dalam kegiatan pengabdian pada Program Dosen Mengabdi di Desa Asal (Prosendi) tersebut, mahasiswa berperan aktif, mulai dari menyiapkan souvenir, mendokumentasikan kegiatan (foto dan video), hingga memfasilitasi tayangan langsung pentas Seni Jaranan yang menjadi objek pengabdian, Minggu (19/7).

Tim Pengabdian Keris Terkelok UNEJ berpose bersama Kelompok Seni Jaranan Sidodadi Baluk


Partisipasi aktif mahasiswa dirasakan sangat membantu bagi dosen yang sedang melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks ini, tim dosen yang tergabung dalam Kelompok Riset Tradisi Lisan dan Kearifan Lokal (KeRis TERKELOK) merasakan peran aktif mahasiswa mampu memperlancar dan melengkapi berbagai pernik kebutuhan di lapangan. Tim dosen yang melaksanakan pengabdian diketuai oleh Edy Hariyadi, S.S., M.Si., dengan anggota Dr. Heru S.P. Saputra, M.Hum. dan Dra. Titik Maslikatin, M.Hum.

Kegiatan inti pengabdian berupa rangkaian pertunjukan Seni Jaranan Campursari Sidodadi, yang dilaksanakan di Kantor Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi. Kelompok Seni Jaranan Campursari Sidodadi Baluk yang diketuai oleh Atmo menjadi mitra dalam kegiatan tersebut. Pertunjukan tersebut menjadi materi simulasi yang akan dikembangkan menjadi paket wisata industri kreatif, sehingga memiliki daya tarik lebih bagi wisatawan. Dalam pertunjukan siang itu, Seni Jaranan Campursari Sidodadi menampilkan empat tarian, yaitu Tari Sembur Beras Kuning, Tari Iring-Iring, Tari Sampak, dan Tari Sampak Pegon.

Kegiatan pengabdian oleh tim KeRis TERKELOK mendorong pengembangan kemasan paket wisata. Pertunjukan yang biasanya dilaksanakan seharian, diharapkan dapat dipadatkan dalam beberapa jam, dengan tetap menampilkan struktur pertunjukan Jaranan yang utuh. Ciri khas Jaranan berupa ritual pembuka (umbul donga), aksi lelucon (geculan), hingga pertarungan dengan barong yang menimbulkan peristiwa kesurupan (ndadi) tetap dapat ditampilkan. Meskipun demikian, rencana pengemasan paket wisata tidaklah sederhana, sehingga perlu dirancang secara matang atas dasar kreativitas.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan tersebut memerlukan peran aktif semua pihak yang berkolaborasi, yakni tim dosen, mahasiswa, pelaku seni Jaranan, dan masyarakat Banyuwangi, khususnya di Baluk atau Kebalenan. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata dari tim dosen kepada pelaku Jaranan sebagai bentuk apresiasi atas kolaborasi yang telah terjalin dalam mendukung pelestarian budaya lokal. Acara ditutup dengan foto bersama antara tim dosen, mahasiswa, pelaku seni, dan masyarakat.

(Kontributor: Ivan Abdillah Nur Hidayat & Linda Iftinah Sari)